Pantai Ngobaran


Pantai Ngobaran

Rahasia Pantai Ngobaran
“Hei, Rama ! Shinta !Kenapa Kalian ada di tempat seperti ini ?”
            Dengan kompak pasangan sejati itu menjawab,”Semar ada bersama kami”
Jika kalian menyimak kisah kedua sejoli Romeo dan Juliet versi tanah jawa, Toko sentral cerita Ramayana adalah Rama, Shinta, Laksamana,Hanoman, dan Rahwana. Semar adalah salah satu tokoh punakawan (pengasuh setia) dari kisah Pandawa, baik untuk wayang kulit maupun wayang orang, daerah jawa Tengah atau Jawa Timur. Di salah satu area di Pantai Ngobaran terdapat patung semar di antara patung para tokoh wiracarita Ramayana.
            Pantai Ngobaran memiliki keeksotisan tersendiri; terletak di tebing yang cukup tinggi dan berbatu. Ombak tak henti menghantam tebing tebing itu. Debur air begitu tinggi, kadang terlihat menyeramkan, kadang tampak indah. Seperti pagi itu kala saya berada disana. Suasana mistis begitu terasa. Keheranan saya pun segerea saya cari jawabannya !
            Setelah saya mengamati selama sekitar 20 menit, rasa penasaran awal yang muncul di kepala dan batin saya setiba di tempat itu adalah adanya pura hindu, lengkap dengan simbol dewa brahma,wisnu dan siwa. Di sampingnya ada bangunan yang saya kira adalah menara pandang dan di dindingnya terdapat tulisan Arab Gundul. Awalnya saya mengira itu tulisan Hanacaraka, tapi setelah diamatai oleh kawan perjalanan saya yang seorang guru Bahasa Jawa, ternyata itu bukan huruf jawa. Saya merasa penasaran terlebih saat saya mencoba turun ke pantai berbatu yang tertutup air cukup tinggi dari arah area terbuka saya melihat Garuda Wisnu menghadap kelaut bebas. Saya mengurungkan niat untuk turun ke pantai. Oke saya tidak tahan untuk segera bertanya !
            Tampak beberapa warga tengah menyemen jalan. Mata saya mengawasi mereka dan sekeliling. Ada tempat parkir motor, rumah makan yang masih tutup, toilet umum yang tidak dipungut biaya. Seorang pria dan nenek membelah pisang. Saya menghampiri mereka dan mulai bertanya tanya tentang Pantai Ngobaran.
            “Agama opo,yo ,Mbak. Ya Hindu,ya Islan,ya Kejawen,” Saya tertawa kecil di dalam hati. Oalaah kehidupan di kota metropolitan membuat saya melupakan kepercayaan lain di luar lima agama yang diakui oleh negara. Warga melakukan “kebiasaaan” mereka pada hari hari tertentu, yaitu selasa kliwon atau malam jumat kliwon (kliwon adalah satu hari pasaran dan budaya jawa). Kamipun berbincang akrab. Dari penjelasan mereka, saya mendapatkan informasimenarik mengenai pantai ngobaran. Pertama, bisa dipastikan bahwa bangunan yang saya kira menara pandang itu ternyata sebuah mesjid. Nama ngobaran pun memiliki kisah yang unik, berasal dari kata “kobaran” yang berarti membakar diri. Konon, ditempat ini Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir, bersama para pengikut setianya membakar diri sampai mati karena terdesak oleh pasukan Kerajaan Demak
            Lain lagi mengenai kondisi pantai. Kalau air surut, akan terlihat hamparan rumput hijau atau cokelat. Selain itu, puluhan binatang laut di sela sela karang, seperti landak laut, bintang laut dan kerang kerangan, dapat terlihat. Kegiatan  masyarakat pada sore hari adalah mencari landak laut untuk dijadikan santap makam. Selebum dimasak, duri landak dikeprak hingga rata.
            Saat itu makan siang masih beberapa jam ke depan, berarti makan malam masih sangat lama. Saya pun memilih makan ikan lau saja

ingin ke pantai ini ?
kesulitan transportasi ?
Hubungi Segera Rental Motor Jogja
RENTAL MOTOR JOGJA
Telp / SMS 085743130870
Telp / Wa 082134415485
Pin I : 335B1335
Pin II : 5B32E2348
Line : sewamotoryogya atau mandirimotor
Twitter : @mandirimotor atau @sewamotor15ribu
Jl lempuyangan No 8 PJKA 8 (Depan Stasiun Lempuyangan - Neon Box Kuning Mandiri Motor)
Jam Kerja : 07.00 - 17.00

Subscribe to receive free email updates: